Kebiasaan yang Bikin Kamu Berhutang

debt aSalah seorang temanku berprofesi sebagai seorang perencana keuangan. Kami sudah berteman sejak kami duduk di bangku SMP. Saat ini, kami sudah berkeluarga dan memiliki kesibukan masing-masing. Beberapa tahun yang lalu, aku bertemu dengannya dan mengobrol di sebuah kafe sambil minum kopi cappuccino kesukaan kami. Ada banyak hal yang kami obrolkan, salah satunya adalah kebiasaan yang bikin seseorang berhutang. Hal ini sangat menarik buatku pribadi karena rekan kerjaku di kantor yang memiliki posisi lebih baik dariku sering sekali berhutang.

Jujur, aku sampai heran pada rekan kerjaku itu karena seharusnya aku yang memiliki kemungkinan besar untuk berhutang, tapi justru sebaliknya, aku yang sering meminjamkan uang kepadanya. Temanku bilang bahwa aku bisa mengelola keuanganku dengan baik sehingga aku bisa bebas dari hutang. Oya, dia juga menjelaskan bahwa mungkin saja rekan kerjaku itu memiliki kebiasaan buruk yang biasanya bisa mengeluarkan banyak uang.

Btw, apakah kamu mengalami masalah yang sama dengan rekan kerjaku? Jika iya, ada baiknya untuk menghindari kebiasaan yang bikin kamu berhutang di bawah ini:

Mendahulukan keinginan daripada kebutuhan

Mana yang akan kamu beli dari kedua opsi ini: smartphone baru yang dilengkapi dengan teknologi termutakhir saat ini atau pakaian kantor? Sebagian besar orang tentu akan memilih smartphone baru tersebut karena siapa juga yang tidak ingin terlihat keren dan oke dengan gadget tersebut. Yup, kamu juga mungkin akan memilih opsi yang sama. Sadari bahwa hal tersebut bukanlah pilihan yang tepat karena kamu akan mengeluarkan jutaan rupiah dalam sekali belanja.

“Aku akan belinya pake kartu kredit jadi bisa mendapatkan potongan harga.” Jika ini yang menjadi alasan kamu, ini juga tidak baik karena akan meningkatkan tagihan kartu kredit pada akhirnya nanti. Coba bayangkan jika sebelum membeli smartphone baru tersebut, kamu sudah menggunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang lain yang kamu inginkan. Sudah pasti, akhirnya nanti kamu akan dikejar-kejar hutang.

Mengambil banyak barang kreditan

Mengambil satu atau dua barang kreditan memang bukanlah masalah besar, apalagi jika cicilannya terjangkau dan tidak ada bunga jika kamu telat membayar. Namun, masalahnya adalah kebanyakan dari kamu suka mengambil barang kreditan dalam jumlah banyak. Parahnya, barang yang dipilih harganya mahal sehingga pada akhirnya kamu akan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk melunasinya. Ini belum seberapa jika si pemilik barang mengharuskan kamu untuk membayar bunga dalam jumlah cukup besar jika kamu telat membayar. Misalnya, jika kamu mengambil sebuah home theater dengan cicilan per bulan lebih dari lima ratus ribu rupiah dan ditambah bunga 20-50 persen, tentu saja kamu bisa mengeluarkan dana setidaknya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah dalam sekali pembayaran cicilan. Oleh sebab itu, hindari kebiasaan ini!

waste money

Menghabiskan banyak waktu di luar rumah

Hang out bareng keluarga, teman-teman dekat, atau pacar sah-sah saja untuk dilakukan. Setiap orang butuh hiburan supaya beban pikirannya hilang. Namun, hindari menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Cukup lakukan kegiatan ini satu atau dua kali dalam seminggu. Itu pun dengan catatan kamu tidak boleh mengeluarkan banyak uang. Tahan semua keinginan kamu untuk belanja atau mencicipi makanan dan minuman sesuka kamu. Jika kamu ingin tetap sering melakukan ini, bersiaplah untuk menghadapi hutang. Mengapa hal ini bisa terjadi? Logikanya seperti ini: jika dalam satu minggu kamu menghabiskan waktu di luar rumah sebanyak 4 kali dan setiap kali kamu melakukan kegiatan ini, kamu mengeluarkan dana 50 ribu rupiah, bisa dong membayangkan berapa banyak uang yang dihabiskan dalam satu bulan?

Well, mulai biasakan diri untuk hidup hemat dari sekarang jika tidak ingin lagi berhutang.

Outcome Lebih Besar dari Income? Terapkan Metode EPK

“Argghh…lagi-lagi bulan ini pengeluaranku lebih besar dari pemasukanku! Apa yang sebaiknya aku lakukan?” Ini adalah omelan sepupuku beberapa waktu yang lalu setelah dia mengecek data pengeluaran dan pemasukannya. Di sangat kaget saat itu karena hal tersebut membuatnya harus menguras tabungannya guna membayar tagihan atau kredit barang yang dia beli. Masalah ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh sepupuku, tapi juga orang-orang di luar sana yang pada umumnya kurang begitu mahir dalam mengelola keuangan mereka. Pada umumnya, penghasilan mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka sehingga outcome mereka selalu lebih besar dari income.

income

Hal ini bisa menjadi masalah serius jika tidak segera ditanggulangi. Bagaimana dengan Anda sendiri? Jika Anda juga mengalami masalah yang sama, apakah Anda tahu apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk mengatasi masalah ini? Jika Anda menjawab tidak, pertimbangkan untuk menerapkan metode EPK berikut:

Evaluasi

Anda tidak akan pernah tahu mengapa pengeluaran lebih dari pendapatan jika tidak ada evaluasi sama sekali. Untuk itu, lakukan evaluasi dengan mengecek seluruh struk pengeluaran dan daftar belanja Anda. Bagaimana jika sebelum ini Anda tidak menyimpan struk atau membut daftar belanja tersebut? Cukup mengingat apa saja yang sudah Anda beli untuk saat ini, seperti beli pulsa, pakaian, kebutuhan pokok sehari-hari, bensin, listrik, dan lain sebagainya. Selanjutnya, mulai kumpulkan struk dan buat daftar belanja secara rutin. Hitung semua pengeluaran Anda secara cermat dan akurat supaya Anda mengetahui kondisi pengeluaran Anda sebenarnya.

Pengurangan

Jika Anda sudah mendapatkan hasil evaluasi dan tahu alasan mengapa pengeluaran lebih besar dari pendapatan, kurangi bagian yang menjadikan pengeluaran meningkat semaksimal mungkin. Misalnya, jika pengeluaran Anda meningkat karena Anda sering membeli pakaian, maka kurangi membeli pakaian untuk bulan selanjutnya atau jika Anda terlalu sering membeli pulsa untuk menelpon orang terdekat Anda, sebaiknya atur pemakaian pulsa Anda dengan mengambil paket telpon atau cukup dengan mengirim SMS agar Anda lebih hemat. Jika tiba waktunya untuk membeli pakaian baru atau pulsa, temukan diskon atau voucher belanja atau datangkan ke counter yang menawarkan pulsa dengan harga terjangkau supaya bisa menghemat uang Anda. Alternatif lain khususnya untuk membeli pakaian baru adalah membeli pakaian grosir yang memungkinkan Anda untuk hemat hingga ratusan ribu rupiah. Saat ini, Anda bisa membeli pakaian grosir secara online di situs-situs terpercaya.

cut down expense

Kontrol

Hal terakhir yang harus Anda lakukan adalah mengontrol semua pengeluaran Anda secara rinci dengan cara mengecek secara rutin apa saja produk-produk yang sudah Anda beli. Di samping itu, Anda juga dituntut untuk mengontrol nafsu belanja secara berlebihan agar kondisi keuangan Anda tetap stabil. Bagi yang mudah merasa gengsi karena melihat teman membawa barang belanjaan lebih dari Anda, hilangkan rasa gengsi tersebut. Jangan malu berhemat untuk mendapatkan kehidupan yang bebas dari masalah keuangan. Jujur, aku juga sering merasa minder saat belanja bareng sepupu atau temanku yang membawa barang belanjaan lebih banyak daripada punyaku. Timbul perasaan ingin belanja lagi di benakku. Namun, aku selalu berhasil mengontrol keinginanku dengan mengatakan pada diriku bahwa masih ada hari esok untuk belanja dan masih banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Cara sederhana ini cukup manjur untukku karena berhasil membuatku bisa menahan nafsu belanjaku.

Mudah-mudahan dengan menerapkan metode EPK di atas, outcome Anda tidak akan lebih besar dari income untuk kedepannya.

I’m Lucky because of Having Car Insurance

I will never forget what happens three years ago. At that moment, I planned to pick up my family in airport. Before going there, I felt uncomfortable immediately so I was afraid. Nevertheless, I still thought positively and tried to calm myself down. I checked my car and after heating it about 5 minutes, I went to airport. When I was on the way, I looked a rider who rode without obeying traffic rules. He rode fast and made other drivers complain. Unfortunately, there was no police there so he continued his action.

Caraccidentagain

The problem came to me when other car in front of me tried to avoid the rider by stopping abruptly. I tried to stop my car, but I could so I decided to deflect my car to right. I did not know that it was bad decision because there was roadblock. My car hit the roadblock and was upside down. I was unconscious for two days in hospital. Police told me that I was helped by other drivers. Did you know what happened to me? My left leg was broken and there were many injuries in my body. My car was also broken and placed on police office.

I was sad at that moment because I could not do my jobs as usual anymore. My family visited and accompanied me till I got my health back. Some of my colleagues and bosses also visit me in hospital. They looked sad and took care of me so I was happy. After three days in hospital, my family told me that they would help me pay medical bill. I said they did not need to do it because I had asuransi untuk kendaraan bermotor that I bought at Raja Premi in 2014. I told them that all medical bills and auto repair costs would be guaranteed by insurance company.

car-insurance-rates

Listening to my explanation they felt free and happy. To be honest, I could not imagine what happened to me if I was not helped fast. Besides, I might stress out because I had to pay thousands of dollars for medical bills and car repair services. I felt lucky because of having car insurance so I could cut down my expenses and avoid getting any debts.

Well, based on my story, are you keen on buying car insurance? If you still answer no, change your doubt because having this insurance product is highly important and useful. Imagine how much money that you will spend if there is no compensation or help from others. If you borrow money from other or bank, of course you will have debts. The worst part is you might get serious trouble if you cannot pay off the debts.

Anyway, now my condition is better, although I still feel little trauma for the car accident. My car is in good condition after being repaired at reliable auto workshop that cooperates with Raja Premi. I hope this accident will never come to my life anymore. I will be more careful of driving.

If You Get Losses in Trading Forex, Will You Blame Broker?

There is no forex trader who wants to lose. They always want to make a profit every time you log onto the market and open positions. To realize these dreams, they cooperate with certain forex brokers whose job is to provide information or to analyze market movements and trends when needed. Unfortunately, this does not guarantee that the forex trader can gain for desired. This could happen even though it was getting information from forex brokers.

My friend never experienced this problem a year ago. At that time, she was really upset and disappointed at the performance of forex brokers that have been invited to work together. It is natural because of the loss that he has received more than 5 million dollars. My friend complained about the broker’s performance, but the broker does not want to be blamed because they are already working according to the procedure. As a result, would not want my friend still pay the broker’s commission. Already falling down the stairs anyway. It’s the right term to describe how bad my experience it.broker

Actually, if the losses in forex trading, forex brokers should blame has to work with? Answers to these questions may be yes, and may not. Trader may complain and even brought the matter to court if brokers commit fraud or do not provide good service. For example, if they say will provide an accurate analysis results and the result they provide misses, then the trader may sue or not to pay them a commission if it is required. In addition, traders should blame the broker if they apply excessive re-quotes and slippage or order that deliberately slowed performance.

Is just that reason? Certainly not because traders may blame the broker if they commit fraud in price feed by using certain software, abusing 2 accounts swaps and swap free accounts, installing redundant pending orders, and force the server is busy with a particular script program. It is very risky to incur losses. Additional information, traders are strongly advised to blame the broker’s broker if it is not officially regulated. This means that the broker is illegal and cannot be trusted. Blame necessarily required as they will only bring harm.

On the other hand, traders are advised not to blame the broker if the broker has to work optimally and give good results of fundamental and technical analysis accurately. If the broker has been regulated and obtains official permission from BAPPEBTI, like www.foreximf.com, it means that they are professionals. It is also certain that the services they provide and the quality can be justified. Then, what about the losses that have been obtained? This happens for a reason. There are two possible causes for this to happen. First, traders ignore the information and results of the analysis of the broker. Secondly, there is a change or a sudden market trends or changes in the direction of a currency that is difficult to predict that the recommended decision is open position, it should close the position.

In the above case, of course brokers can not entirely blame because it happens unexpectedly. It is better to accept the loss with sincere and back strategize for a trade or exit the market for a moment to refresh the hearts and minds for a moment in order to minimize the risk of wrong decisions and suffered heavy losses. Keep in mind that most traders will continue to open a position to make a profit after losses and eventually get their initial capital sold no trace.

Please also read: Cara Memilih broker forex

Pentingnya Sikap Disiplin dalam Mengelola Keuangan

Ada banyak orang yang mengalami masalah keuangan, padahal income mereka lebih baik dibanding orang-orang di sekitar mereka. Hal ini tentu sangat merugikan karena masalah keuangan dapat membawa si penanggung terjerat dalam hutang dan bahkan masuk penjara jika tidak mampu melunasi hutang tersebut. Sebenarnya, hal ini tidak perlu terjadi jika mampu mendisiplinkan diri dalam mengelola keuangan. Tentu hal ini tidaklah mudah, apalagi bagi yang hobi belanja.

diskon a

Aku sendiri memiliki seorang teman yang hobinya belanja. Meskipun dia tahu bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik, dia masih tetap mempertahankan kebiasaan buruknya itu. Sebagai seorang teman, aku selalu mengingatkannya akan dampak buruk yang bisa saja menimpanya nanti. Namun, semua nasehatku hanya dianggap angin lalu saja. Dia masih terus menerus melakukan hobinya tersebut sampai saat ini. Tak heran, jika sampai saat ini, dia masih sering berhutang dan terjerat dalam masalah keuangan. Bagian terburuknya adalah dia hampir masuk penjara karena dia tidak membayar hutangnya tepat waktu. Untung saja dia memiliki keluarga yang baik sehingga dia mendapatkan pertolongan di waktu dan tempat yang tepat. Entah sampai kapan dia akan melakukan hobinya tersebut. Mudah-mudahan dia segera sadar.

Jujur, beberapa tahun yang lalu, aku juga memiliki hobi yang sama seperti temanku. Hampir setiap akhir pekan aku belanja di mall atau department store untuk mendapatkan kepuasan dan kebahagian dalam hidup. Aku menyadari bahwa hobiku tersebut tidak baik untuk kondisi keuanganku sejak aku sering kehabisan uang di pertengahan bulan. Parahnya lagi, lebih dari ¾ pendapatanku per bulan harus aku setorkan kepada pihak bank karena aku belanja dengan menggunakan kartu kredit. Hal ini masih belum seberapa karena terkadang aku harus membayar uang cicilan atas produk yang sudah aku beli. Memang hal ini jarang aku lakukan, tapi cukup membuat keuanganku tidak stabil.

uang 1

Aku sering pusing tujuh keliling dan merasa tertekan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba mendisiplinkan diriku dengan tidak belanja lagi. Aku hanya belanja satu atau dua kali dalam sebulan, itu pun dengan daftar belanja yang sudah aku buat sebelumnya. Terkadang, aku mencari-cari potongan harga atau voucher supaya aku bisa mendapatkan barang yang aku butuhkan dengan harga miring. Apa yang aku lakukan membawa dampak baik bagi hidupku. Terbukti, hidupku jauh lebih baik setelah aku membiasakan diri untuk tidak hobi belanja lagi.

Memang pada awalnya mendisiplinkan diri untuk tidak belanja semaunya itu tidaklah gampang. Apalagi ketika sedang belanja, aku melihat potongan harga di toko-toko tertentu. Niat untuk belanja berlebihan akan segera muncul dalam benakku. Untungnya aku bisa menahan nafsu belanjaku dan mengurungkan niatku. Alhasil, aku menjadi terbiasa dengan hal tersebut. Di lain sisi, jika aku menginginkan sesuatu di luar daftar belanja, aku biasanya memilih untuk menabung terlebih dahulu. Memang butuh beberapa waktu untuk mencukupi anggaran yang diperlukan, tapi setidaknya kondisi keuanganku tetap stabil dan aku berhasil mendapatkan apa yang aku butuhkan. Tertarik untuk mencobanya?

Untuk itu, kedisiplinan dalam mengelola keuangan memang sangat penting. Hal ini memang cukup sulit untuk dilakukan, tapi dengan niat dan menjalankannya dengan serius, hal ini akan menjadi gampang. Di samping itu, mudah-mudahan informasi ini dapat memberikan pencerahan bagi yang ingin terhindar dari masalah hutang akibat kurang disiplin dalam mengelola keuangan.